Tak Berkategori

Kisah Anak yang Lupakan Ibu di Panti Jompo

konsep-otomatis-kisah-anak

Kisah Kekuasaan Allah itu tidak ada batasnya, dan semoga kita dijadikan sebagai anak-anak yang menyayangi kedua orang tua.

KisahNyata.org – Kisah Keberadaan kita saat ini adalah berkah yang dibawa oleh kedua orang tua melalui perjuangan bertaruh nyawa. Sebagai seorang anak, kita dicintai dan disayangi orang tua tanpa pamrih.

Mereka membesarkan kita dengan hati ikhlas dan penuh susah payah. Orang tua rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk memastikan kebutuhan anak-anak terjaga.

Berikut ini Dream berbagi kisah nyata untuk menjadi pelajaran bagi kita yang masih memiliki orang tua namun menyia-nyiakan mereka di akhir hayatnya.

Kekuasaan Allah itu tidak ada batasnya, dan semoga kita dijadikan sebagai anak-anak yang menyayangi kedua orang tua. Amin

Kisah Bertemu Seorang Ibu di Panti Jompo

Suatu hari saya pergi ke Panti Jompo. Saya mendapatkan titipan sejumlah uang dari seorang teman yang meminta saya untuk membeli dan membagikan barang-barang kebutuhan kepada orang miskin.

Jadi saya membeli berbagai macam keperluan, termasuk roti dan pergi ke sebuah Panti Jompo. Tidak perlu disebutkan namanya dan di mana letaknya.

Begitu mobil saya masuk ke kompleks Panti Jompo itu, tiba-tiba seorang wanita tua lari dari asrama mendekati saya.

” Ya..ya.. anakku datang, anakku datang. Senangnya anakku datang,” teriak wanita tua itu kegirangan.

Saya tak kenal siapa dia. Dia langsung memeluk saya, mencium saya.

” Nak, kenapa tinggalkan Mak di sini? Mak ingin pulang. Mak sangat rindu dengan rumah,” kata wanita itu.

Waktu itu saya hanya menghela napas dan memegang tangannya, ” Ya Allah, Mak..”

Saya pegang tangannya, dan melihat ke dalam wajahnya. Wanita itu terus berkata, ” Sampai hati anak ini tidak mengakui aku ini Ibu.”

Saya bisa membayangkan perasaannya yang sangat rindu dengan anaknya. Saya pun berpura-pura jadi anaknya, dan berkata, ” Mak.. maafkan saya ya.”

Saya menuntunnya untuk duduk di kursi di teras asrama. Setelah itu saya mengambil roti dan menyuapinya.

Coba bayangkan hatinya ketika disuap roti oleh anaknya. Bagaimana perasaannya? Bagaimana perasaan kita sebagai anak?

Selama saya menyuap roti, wanita tua ini berlinang air mata. Dia terus memegang tangan saya. Subhana Allah, saya bisa merasakan betapa dia merindukan anaknya.

Ketika saya ingin pulang, dia memegang kaki saya sambil berkata, ” Nak .. jangan tinggalkan Mak. Mak ingin pulang, ingin pulang, Nak.”

Ikut Pulang dan Tinggal di Rumah

Akhirnya saya mendapatkan informasi tentang wanita tua itu. Dia memiliki 5 anak. Putra tertuanya bergelar Tan Sri, seorang yang kaya kaya, terpandang dan orang hebat.

Ketika akan pulang, wanita tua itu menarik baju saya. Dia ingin ikut pulang karena mengira saya anaknya. Singkat cerita, saya mengisi formulir dan mengajaknya tinggal di rumah selama 5 hari saja.

Saat kembali ke rumah, saya yang menjadi Imam ketika sholat Subuh. Saat saya membaca doa, air mata dia jatuh.

Setelah itu saya menyapanya, dan mencium tangannya. Saya kemudian berkata, ” Mak.. Maafkan saya ya.”

Saya memang sudah tidak punya orang tua. Tapi saya anggap wanita tua ini Ibu saya karena dia merindukan anak-anaknya.

Hari ketiga tinggal di rumah saya, wanita tua itu mulai sadar bahwa saya bukan anaknya. Selesai sholat Isyak dan ingin mencium tangannya, wanita tua itu mengulurkan tangannya sambil ditutup kain jilbab.

” Mak .. kenapa tangannya ditutup kain jilbab. Dua hari sebelumnya, Mak selalu menerima saya. Tapi kenapa hari ini Mak menutup tangan dengan kain jilbab?” tanya saya.

” Ustaz .. kamu bukan anakku,” katanya. Subhana Allah. Tiba-tiba dia memanggil saya dengan sebutan ustaz.

” Kenapa Mak panggil saya ustaz? Saya anak Mak,” kata saya. Wanita itu berkata, ” Bukan. Kalau anak saya tidak akan berbuat semacam ini. Kalau anak saya dia tak akan jadi imam saya. Kalau anak saya dia tak akan suap saya makan.”

Kisah Meninggal di Pangkuan

Bayangkan sahabat, perasaan seorang ibu ini. Tiba-tiba dia menangis . Saya pegang dan peluk dia. Saya pun ikut menangis, sambil berkata, ” Mak, walaupun Mak bukan ibu saya, tapi saya sayang Mak sebagai ibu sendiri.”

Saya tuntun dia duduk di kursi dan menyuapkan nasi ke mulutnya. Tapi dia muntahkan balik dan saya lihat wajahnya tiba-tiba pucat.

Saya angkat dia dan panggil ambulans untuk mengantarnya ke rumah sakit. Waktu di rumah sakit, saya angkat kepalanya di atas pangkuan saya.

Dia pegang tangan saya sambil berkata, ” Ustaz .. Jika saya mati, tolong jangan beritahu anak saya. Jika anak saya tahu saya sudah mati, jangan beritahu di mana kuburan saya. Jika dia tahu di mana kuburan saya jangan biarkan dia memegang batu nisan saya.”

Istri dan anak saya menangis mendengar perkataannya. Kami pegang wanita tua itu sambil berkata, ” Mak, jangan berbicara seperti itu. Jangan Mak.”

Tapi dia menggelengkan kepalanya. Rupanya itulah saat dia sakaratul maut. Dia akhirnya meninggal dunia di atas pangkuan saya di rumah sakit.

Kisah Anak Dapat Balasan

Sahabat, siapa pun yang masih punya ibu, janganlah durhaka kepadanya. Jangan tinggalkan dia Panti Jompo. Kalau ibu kita sakit, rawat dan jaga dia.

Rupanya kematian wanita tua itu telah sampai ke telinga anaknya yang langsung menelepon dan mengancam saya.

” Aku akan bawa kamu ke pengadilan. Aku akan menuntut kamu karena telah membawa keluar Mak aku dari Panti Jompo,” kata seorang pria di seberang sana.

Namun saya tunggu-tunggu tidak ada panggilan dari pengadilan hampir setahun lebih. Satu hari, usai memberi ceramah di masjid, tiba-tiba seorang pria tua menghampiri saya sambil menangis.

” Ustaz.. tolong beri tahu di mana kubur Mak saya. Tolong beritahu Ustaz,” katanya sambil tersedu-sedu. ” Kenapa baru hari ini kamu bertanya kubur Mak kamu?” tanya saya balik.

Dia berkata, ” Tolonglah Ustaz. Saya ingin bertemu dengan Mak saya. Sayalah orang bergelar Tan Sri yang ingin menuntut Ustaz hari itu. Saya sekarang seorang papa Ustaz. Istri saya sudah meninggal, rumah saya sudah disita bank, Mobil mewah saya juga. Sekarang tinggal satu mobil kancil.”

” Saya bisa menunjukkan makam Mak Anda. Tapi dengan satu syarat, Anda tidak boleh menyentuh batu nisannya,” kata saya.

Begitu sampai ke kuburan, dia yang turun duluan. Saya kemudian melihat dengan mata kepala sendiri dia tiba-tiba jatuh tersungkur. Tangan dia menjadi hitam, mulut dan tangannya sebelahnya bengkok. Dia terus terus memanggil ibunya.

Saya angkat dia dan membaringkannya tak jauh dari makam ibunya. Ya Allah, belum sampai di depan makam ibunya, pria itu menghembuskan napas terakhir.

Allahu Akbar, Allah SWT telah menunjukkan kepada saya tentang balasan anak durhaka kepada ibunya.

Comment here